Panduan Lengkap Cara Mudah Budidaya Cacing Sutra Tanpa Lumpur - inphedia.id

Header Ads

TOPIK

Panduan Lengkap Cara Mudah Budidaya Cacing Sutra Tanpa Lumpur

Bagi pebisnis, atau pengusaha pemula, mengembangkan budidaya cacing sutra sebuah pilihan usaha yang menjanjikan.

INPHEDIA.ID - Semakin banyaknya para penghobi mampun pembudidaya ikan hias, permintaan akan cacing sutra makin tinggi pula. Terlebih, cacing jenis ini pakan yang berkualitas dan bergizi tinggi untuk ikan hias. Tak heran bila sekarang sudah banyak juga yang berminat bahkan serius menggeluti membudidayakannya.

Cacing sutra, di daerah tertentu memang harus dibudidayakan. Sebab, jenis cacing ini juga tergolong langka. Bahkan, cacing sutra akan sulit didapatkan pada saat atau musim–musim tertentu, terutama di musim penghujan.

Bagi pebisnis, atau pengusaha pemula, mengembangkan budidaya cacing sutra sebuah pilihan usaha yang menjanjikan. Apalagi, ini peluang usaha yang bisa dimulai dengan modal kecil. Walaupun minim modal tetapi membudidaya cacing sutra dengan baik dan benar bisa meraup keuntungan yang lumayan. Permintaan relatif tinggi,  sedangkan di saat-saat tertentu cacing sutra akan lebih sulit ditemukan.

Manfaat Cacing Sutra

Jika dijabarkan secara gamblang, manfaat dari cacing sutra sangatlah banyak. Apalagi, manfaat utama cacing sutra yang diperuntukkan di bidang perikanan dan juga pertenakan yang banyak digunakan sebagai salah satu pakan alami. Di bidang perikanan, cacing berjenis ini biasanya digunakan sebagai pakan bagi pembibitan berbagai jenis budidaya, seperti budidaya ikan cupang, budidaya belut, budidaya lele, budidaya gurame dan budidaya lobster atau udang.

Selain untuk budidaya pembibitan dari berbagai jenis ikan air tawar di atas, cacing sutera juga masih banyak dijadikan sebagai pakan alami bagi ikan–ikan yang lainnya. Sedangkan, untuk bidang pertenakan, budidaya cacing sutera biasanya dipakai dalam campuran pakan–pakan, seperti campuran dari pakan alami untuk budidaya ayam kampung, ayam pedaging maupun ayam pertelur dan ayam–ayam hias.

Tubuh cacing sutra mengandung protein tinggi hingga mencapai 57 persen, sedangkan kandungan lemak hanya 13 persen. Faktor inilah yang menyebabkan cacing sutra tergolong pakan alami bagi pembibitan yang memiliki nilai gizi yang sangat tinggi. Sangat baik jika dijadikan pakan bagi berbagai jenis pembibitan ikan maupun ayam.

Kandungan gizinya yang cukup tunggi tentunya akan mempercepat proses pembibitan, membuat pertumbuhan dari larva menjadi semakin cepat. Larva–larva pada proses pembibitan akan sangat tertarik dengan warna cerah yang dimiliki oleh tubuh cacing sutra ini. Sementara pada ikan hias, cacing sutra akan berguna untuk mempertinggi kemunculan dari pigmen warna dan juga mencerahkan berbagai warna dari ikan hias, seperti ikan koi, cupang, guppy dan lainnya.

Perkembangbiakan Cacing Sutra

Karena cacing sutra adalah golongan hewan berkelamin ganda atau biasa dikenal dengan istilah hermafrodit, perkembangbiakan cacing sutra adalah dengan cara bertelur dan juga memerlukan sperma dari cacing yang lain agar sel telur dapat terbuahi hingga pada akhirnya bisa menetas.

Telur dari cacing sutra akan dibentuk dalam sebuah konkon. Konkon ini sejenis tempat pembuahan yang berbentuk sebuah bangunan bukat telur, dengan diameter 0.7 mm dan panjang sekitar 1 mm yang di keluarkan oleh kelenjar epidermis di salah satu bagian segment dari tubuh cacing sutra yang dinamai kitelum.

Tubuh dari cacing sutra ini memiliki panjang sekitar 1 hingga 2.5 cm yang telah terdiri dari 30 hingga 60 ruas atau segmen. Telur–telur yang ada di dalam tubuh otomatis akan melakukan proses pembelahan, dan akan berkembang selanjutnya berubah menjadi segmen–segmen. Embrio dari cacing sutra akan keluar selama beberapa hari setelah berada di konkon.

Para induk cacing sutra yang dapat mengeluarkan telur dan menghasilkan konkon yang nantinya akan menetas dan berkembang menjadi cacing– acing sutera selanjutnya. Lama proses pembuahan hingga menetas adalah sekitar 40 hingga 45 hari. Sebuah konkon dapat menampung atau menghasilkan sebanyak 4 hingga 5 butir telur cacing.

Butuh waktu sekitar 10 hingga 15 hari agar telur yang berada di dalam konkon dapat menetas menjadi embrio cacing. Sedangkan untuk daur hidup dari cacing sutra sendiri adalah kisaran 50 hingga 57 hari. Ini terhitung ketika embrio cacing masih disimpan didalam konkon hingga menetas menjadi seekor cacing sutra dewasa. Hebatnya, cacing sutra dapat bertahan ditempat yang mengalami kekeringan dengan maksimal waktu 14 hari.

Syarat dan Habitat Cacing Sutra

Cacing sutra jenis cacing yang memiliki ukuran serta bentuk yang kecil nan ramping yang panjangnya hanya sekitar 1 hingga 2.5 cm, sehingga sepintas hanya akan terlihat seperti sebuah koloni atau rambut yang melambai–lambai. Karena itulah cacing sutra ini sering pula dinamakan cacing rambut. Cacing ini tergolong dalam jenis Nematoda dan hidup didasar perairan tawar yang berada di daerah sub tropis maupun daerah tropis.

Walaupun jenis cacing sutra ini dapat hidup di perairan tawar yang memiliki air jernih, namun tempat yang paling disukainya dasar perairan yang mengandung bahan organik dan juga berlumpur. Karena makan utama cacing sutra adalah bagian–bagian dari bahan organik yang telah mengendap serta terurai di dasar perairan tawar tersebut.

Habitat dari cacing sutra subtract lumpur yang memiliki kedalam dari 0 hingga 4 cm. Cacing–cacing sutra ini akan mulai berkembangbiak setelah 7 hingga 11 hari. Karena air memiliki peranan yang sangat penting bagi perkembang biakan, maka cacing ini sangat menyenangi air dan apabila ingin membudidayakannya maka kualitas air yang pas.

Air yang dibutuhkan cacing sutra, yaitu memiliki suhu yang berada di antara 25 hingga 28 derajat Celcius. Cacing sutra sebaiknya dibudidayakan pada pH air 5.5 hingga 8.0. Jangan menggunakan debit air yang relatif besar, namun usahakan agar tetap terus mengalir atau mengalami pergantian air secara konstan dan kapasitas oksigen terlarut atau DO-nya sebanyak 2.5 hingga 28 ppm.

Makanan Pokok Cacing Sutra

Cacing sutra dapat mencerna berbagai jenis bahan orgaik yang telah terurai, namun untuk kualitas terbaik makan bahan organik yang telah terfermentasi akan meningkatkan kandungan dari nutrisi yang tentunya baik untuk perkembangbiakan para cacing sutra.

Pada dasarnya, alam dapat melakukan fermentasi dari bahan organik secara alami. Fermentasi bahan organik secara alami ini akan menghasilkan berbagai jenis ganggang yang memilki vilamen, beberapa pakan alami, seperti plankton, fittoplankon dan berbagai mikro organisme lainnya.

Makanan cacing sutra lainnya yang juga efektif adalah ampas tahu yang telah mengalami proses fermentasi. Karena ampas tahu jenis ini akan menjadi lebih lembek dan steril. Sedangkan untuk campuran pakan alami lainnya dapat berupa tepung ikan, buah -buahan dan berbagai jenis bahan lain yang tidak sulit dijangkau.

Pembibitan hingga Panen

Pembibitan

Langkah awal yang harus dilakukan dalam budidaya cacing sutra, yakni pembibitan. Dalam pembibitan atau melakukan persiapan bibit dapat dilakukan dengan 2 metode umum. Metode pertama, mencari sendiri bibit cacing sutra secara manual di persawahan maupun di sungai. Sedangkan, pembibitan metode kedua, membeli bibit dari cacing sutra tersebut.

Walaupun kebanyakan pengusaha cacing sutra akan memilih melakukan metode kedua karena lebih mudah dan menghemat waktu, namun metode pertama juga direkomendasikan bagi pemula yang minim modal. Pastikan mengkarantina selama 2–3 hari dengan media air bersih yang mengalir walau dengan debit kecil. Ini dilakukan agar bakteri–bakteri patogen yang telah menempel pada cacing dapat dibuang.

Pembuatan Media Tumbuh

Penyiapan habitat atau media untuk pertumbuhan cacing sutra adalah langkah kedua yang harus dilakukan setelah proses atau selama proses pembibitan. Karena disini kita akan menggunakan cara modern atau tanpa lumpur, maka buatlah sebuah kolam yang menyerupai kubangan lumpur berukuran 1 x 2 m.

Lengkapi dengan saluran pembuangan dan pemasukan air, agar air akan tetap diganti tiap harinya. Lengkapi dengan petakan kecil per kubangan. Bisa juga meminimalisir biaya dengan hanya menggunakan media nampan terbuat dari terpal maupun plastik.

Pemeliharaan, Pemupukan dan Pemberian Pakan

Pada proses ini, ketinggian air sangat perlu untuk dijaga, biasanya hanya butuh hingga 5 cm. berikanlah kotoran ayam yang telah difermentasikan. Bisa juga menambahkan sawi–sawian untuk pakan tambahan. Anak–anak cacing ini akan tumbuh selama lebih kurang 10 hari. Ramuan dari dedak halus, pupuk kandang bahkan ampas tahu bisa dijadikan bahan untuk proses pemupukan. Karena cacing–cacing sutra ini sebenarnya menyukai berbagai jenis bahan organik sebagai pakan pokok mereka.


Panen Cacing Sutra

Cacing sutra bisa dipanen sekitar 14 hari sekali. Karena itulah mengapa budidaya cacing sutra merupakan usaha yang menguntungkan. Karena proses pemeliharaannya tidak terlalu sulit dan memiliki masa panen yang relatif cepat. Gunakanlah serok lembut atau yang halus untuk melakukan pemanenan karena tubuh cacing-cacing sutra ini sangat ramping dan kecil.

Karena cacing yang baru dipanen masih kotor karena bercampur dengan berbagai media lainnya yang berada di kolam pemeliharaan, setelah diserok harus dibersihkan kembali. Caranya cukup mudah, hanya dengan memisahkannya kedalam sebuah wadah yang berisi air bersih dan cacing akan naik kepermukaan sehingga mudah dikerok ulang.

Selain itu, anda juga bisa menutup media pemeliharaan hingga benar–benar gelap dan biarkan hingga 4–5 jam dan nantinya cacing-cacing akan bergerombol di dekat permukaan. Kemudian, anda hanya tinggal mengambilnya dengan serokan. Tentunya ini akan mempermudah proses pemanenan. (AB/IN/R-01)

No comments

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).