Prasasti dan Situs Peninggalan Kerajaan Pajajaran atau Kerajaan Sunda-Galuh - inphedia.id

Header Ads

TOPIK

Prasasti dan Situs Peninggalan Kerajaan Pajajaran atau Kerajaan Sunda-Galuh

Seperti halnya kerajaan-kerajaan lain di Indonesia yang sebagian besar meninggalkan jejak-jejak sejarah, Kerajaan Sunda-Galuh ini memiliki sejumlah situs dan prasasti yang ditemukan.

INPHEDIA.ID - Kerajaan Pajajaran atau yang dikenal Kerajaan Sunda-Galuh, gabungan dari Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh yang berdiri pada 1030-1579 Masehi, dengan ibukota kerajaan di Pakuan Pajajaran, yang lokasinya sekarang berada di Provinsi Jawa Barat (Jabar).

Kerajaan yang lebih dikenal dengan nama Pakuan Pajajaran (pakuan atau pakuwuan berarti kota) ini didirikan oleh Sri Jayabhupati pada tahun 923, beribukota di Pajajaran (sekarang Bogor).

Sementara, Pakuan Pajajaran secara ‘resmi’ dinyatakan berdiri saat Jayadewata naik tahta pada 1482 dan bergelar Sri Baduga Maharaja. Sejarah kerajaan banyak dikisahkan dalam berbagai kitab cerita.

Seperti halnya kerajaan-kerajaan lain di Indonesia yang sebagian besar meninggalkan jejak-jejak sejarah, Kerajaan Pajajaran atau Kerajaan Sunda-Galuh ini memiliki sejumlah situs dan prasasti yang ditemukan, baik masih dalam keadaan utuh maupun yang sudah rusak, seperti Prasasti Pasir Datar, Prasasti Huludayeuh, Prasasti Cikapundung, Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis hingga Situs Karangkamulyan.

Prasasti Pasir Datar

Prasasti Pasir Datar ditemukan di Perkebunan Kopi di Pasir Datar, Cisande, Sukabumi pada tahun 1872. Prasasti ini sekarang disimpan di Museum Nasional Jakarta. Prasasti yang terbuat dari batu alah ini hingga kini belum ditranskripsi sehingga belum diketahui isinya.

Prasasti Huludayeuh

Prasasti Huludayeuh berada di tengah persawahan di Kampung Huludayeuh, Desa Cikalahang, Kecamatan Sumber dan setelah pemekaran menjadi Kecamatan Dukupuntang, Cirebon.

Keberadaan Prasasti Huludayeuh telah lama diketahui oleh penduduk setempat, namun di kalangan para ahli sejarah dan arkeologi baru diketahui pada bulan September 1991. Prasasti ini diumumkan dalam media cetak Harian Pikiran Rakyat pada 11 September 1991 dan Harian Kompas pada 12 September 1991.

Isi Prasasti Huludayeuh

Prasasti Huludayeuh berisi 11 baris tulisan beraksa dan berbahasa Sunda Kuno, tetapi sayang batu prasasti ketika ditemukan sudah tidak utuh lagi karena beberapa batunya pecah sehingga aksaranya turut hilang. Begitupun permukaan batu juga telah sangat rusak dan tulisannya banyak yang turut aus sehingga sebagian besar isinya tidak dapat diketahui.

Walaupun sudah rusak namun tulisan di prasasti ini masih bisa dijabarkan. Fragmen prasasti tersebut secara garis besar mengemukakan tentang Sri Maharaja Ratu Haji di Pakwan Sya Sang Ratu Dewata yang bertalian dengan usaha-usaha memakmurkan negerinya.

Prasasti Cikapundung


Prasati yang pertama kali ditemukan warga di sekitar Sungai Cikapundung, Bandung, pada 8 Oktober 2010 ini sesuai dengan nama tempat penemuan dinamakan dengan Prasasti Cikapundung. Dasar batu prasasti bertuliskan huruf Sunda kuno yang diperkirakan berasal dari abad ke-14. Selain huruf Sunda kuno, pada prasasti itu juga terdapat gambar telapak tangan, telapak kaki, dan wajah.

Ukuran batu prasasti ini panjang 178 cm, lebar 80 cm, dan tinggi 55 cm. Pada prasasti yang terdapat gambar telapak tangan, telapak kaki, wajah, dan dua baris huruf Sunda kuno tersebut bertuliskan “unggal jagat jalmah hendap”, yang apabila dimaknakan artinya semua manusia di dunia akan mengalami sesuatu.

Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis

Prasasti Perjanjian Sunda-Portugis, sebuah prasasti berbentuk tugu batu yang ditemukan pada tahun 1918 di Jakarta. Prasasti ini menandai perjanjian Kerajaan Sunda–Kerajaan Portugal yang dibuat oleh utusan dagang Portugis dari Malaka yang dipimpin Enrique Leme dan membawa barang-barang untuk "Raja Samian". Dimaksud dengan Sanghyang, yaitu Sang Hyang Surawisesa, pangeran yang menjadi pemimpin utusan raja Sunda waktu itu.

Prasasti ini didirikan di atas tanah yang ditunjuk sebagai tempat untuk membangun benteng dan gudang bagi orang Portugis. Prasasti ini ditemukan kembali ketika dilakukan penggalian untuk membangun fondasi gudang di sudut Prinsenstraat (sekarang Jalan Cengkeh) dan Groenestraat (Jalan Kali Besar Timur I), sekarang termasuk wilayah Jakarta Barat. Prasasti tersebut sekarang disimpan di Museum Nasional Republik Indonesia, sementara sebuah replikanya dipamerkan di Museum Sejarah Jakarta.

Situs Karangkamulyan

Situs Karangkamulyan sebuah situs yang terletak di Desa Karangkamulyan, Ciamis, Jawa Barat. Situs ini peninggalan dari zaman Kerajaan Galuh yang bercorak Hindu-Buddha. Kawasan yang luasnya kurang lebih 25 Ha ini menyimpan berbagai benda-benda yang diduga mengandung sejarah tentang Kerajaan Galuh yang sebagian besar berbentuk batu.

Batu-batu ini letaknya tidaklah berdekatan tetapi menyebar dengan bentuknya yang berbeda-beda. Sebagian besar batu itu berada di dalam sebuah bangunan yang strukturnya terbuat dari tumpukan batu yang bentuknya hampir sama. Struktur bangunan ini memiliki sebuah pintu sehingga menyerupai sebuah kamar. Batu-batu yang ada di dalam struktur bangunan ini memiliki nama dan menyimpan kisahnya sendiri.

Begitu pula di beberapa lokasi lain yang berada di luar struktur batu. Masing-masing nama tersebut pemberian dari masyarakat yang dihubungkan dengan kisah atau mitos tentang kerajaan Galuh seperti pangcalikan atau tempat duduk, lambang peribadatan, tempat melahirkan, tempat sabung ayam dan Cikahuripan.

Legenda Situs Karangkamulyan berkisah tentang Ciung Wanara yang berhubungan dengan Kerajaan Galuh. Cerita ini banyak dibumbui dengan kisah kepahlawanan yang luar biasa, seperti kesaktian dan keperkasaan yang tidak dimiliki oleh orang biasa namun dimiliki oleh Ciung Wanara.

Prasasti Kebon Kopi II

Prasasti Kebon Kopi II atau Prasasti Pasir Muara peninggalan kerajaan Sunda-Galuh ini ditemukan tidak jauh dari Prasasti Kebon Kopi I yang merupakan peninggalan Kerajaan Tarumanegara dan dinamakan demikian untuk dibedakan dari prasasti pertama. Namun sayang sekali prasasti ini sudah hilang dicuri sekitar tahun 1940-an.

Seorang pakar sejarah, F. D. K. Bosch yang sempat mempelajari prasasti Kebon Kopi, menulis bahwa prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno. Isinya menyatakan seorang "Raja Sunda menduduki kembali tahtanya" dan menafsirkan angka tahun peristiwa ini bertarikh 932 Masehi.

Prasasti Kebon Kopi II ditemukan di Kampung Pasir Muara, desa Ciaruteun Ilir, Cibungbulang, Bogor, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada abad ke 19 Masehi ketika dilakukan penebangan hutan untuk lahan perkebunan kopi. Prasasti ini terletak kira-kira 1 km dari batu prasasti Prasasti Kebon Kopi I (Prasasti Tapak Gajah).

Prasasti Ulubelu

Berbeda dengan beberapa prasasti lainnya, Prasasti Ulubelu salah satu dari prasasti peninggalan Kerajaan Sunda di abad ke-15 Masehi yang ditemukan di Ulubelu, Desa Rebangpunggung, Kotaagung, Kabupaten Tanggamus, Provinsi Lampung tahun 1936.

Penemuan peninggalan kerajaan ini di di Ulubelu tersebut menjadi bukti akan adanya hubungan antara kerajaan di Jawa dengan Sumatera. Meski prasasti itu ditemukan di daerah Lampung, ada sejarawan menganggap aksara yang digunakan dalam prasasti ini aksara Sunda Kuno. Sehingga prasasti ini sering dianggap sebagai peninggalan Kerajaan Sunda.

Anggapan sejarawan tersebut didukung oleh kenyataan wilayah Kerajaan Sunda mencakup juga wilayah Lampung. Dalam sejarah disebutkan, Kerajaan Sunda diruntuhkan Kesultanan Banten dan kekuasaan atas wilayah selatan Sumatera dilanjutkan Kesultanan Banten.

Isi Prasasti Ulubelu menurut pembacaannya berupa mantra permintaan tolong kepada kepada dewa-dewa utama, yaitu Batara Guru (Siwa), Brahma, dan Wisnu, serta selain itu juga kepada dewa penguasa air, tanah, dan pohon agar menjaga keselamatan dari semua musuh. (SJ.IN/AR/SD/*)

No comments

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).