Sejarah dan Budaya Suku Bugis - inphedia.id

Header Ads

TOPIK

Sejarah dan Budaya Suku Bugis

Saat ini Suku Bugis telah banyak pula yang sudah tinggal maupun menetap diluar daerah, membaur dengan suku-suku bangsa lainnya.

INPHEDIA.ID – Di Indonesia, Bugis suku bangsa yang sebagian besar bermukim di Pulau Sulawesi, tepatnya di Sulawesi Selatan. Namun, saat ini Suku Bugis telah banyak pula yang sudah tinggal maupun menetap diluar daerah, membaur dengan suku-suku bangsa lainnya. Bahkan, perpindahan orang Bugis ke wilayah lain sudah berlangsung sedari dahulu. 

Menurut sejarahnya, Bugis merupakan suku yang tergolong ke dalam suku-suku Melayu Deutero. Masuk ke Nusantara setelah gelombang migrasi pertama dari daratan Asia tepatnya Yunan. Kata "Bugis" berasal dari kata To Ugi, yang berarti orang Bugis.

Keberadaan Suku Bugis di Provinsi Lampung misalnya, diketahui telah ada sejak zaman dulu. Sejarah daerah dan cerita-cerita rakyat di sini menyebut adanya hubungan tertalian darah antara salah satu suku di Lampung dengan Bugis. Di Menggala, Tulang Bawang, Lampung, ada namanya Kampung Bugis.

Tak hanya itu, sejarah adanya hubungan Bugis dengan Lampung dibuktikan dari bentuk tulisan setempat. Had Lampung, bentuk tulisan aksara Lampung dikatakan memiliki hubungan dengan aksara Rencong, Aksara Rejang Bengkulu dan Aksara Bugis.

Di Lampung, diketahui keturunan Suku Bugis yang telah lahir dan besar di daerah ini sebagian besar banyak bermukim di kawasan pesisir, mulai dari Lampung Selatan (Lamsel), Teluk Betung Bandar Lampung, Pesawaran, Tanggamus, Pesisir Barat, Lampung Timur (Lamtim), Lampung Tengah (Lamteng), Tulang Bawang (Tuba) hingga Mesuji.  

Suku Bugis dikenal memiliki kebudayaan yang unik yang tetap eksis. Pun keberadaan keturunan Suku Bugis di Provinsi Lampung. Meski zaman semakin modern, kebudayaan Suku Bugis masih banyak yang tetap dipertahankan eksistensinya sebagai warisan leluhur yang dilestarikan hingga saat ini.

Adat Perkawinan Suku Bugis

Masyarakat Suku Bugis memandang perkawinan, dimana laki-laki dan perempuan saling terikat satu janji dalam membangun rumah tangga, sebagai hal yang sangat penting hingga membuat sebuah kriteria yang dianggap sebagai perkawinan ideal.

Seperti halnya dengan masyarakat Suku Jawa yang memandang bobot, bibit, bebet sebelum melangsungkan perkawinan, suku ini juga memiliki kriteria tertentu dalam perkawinan di antara mereka. Perkawinan ideal menurut masyarakat Suku Bugis dapat dibagi menjadi 3, yaitu Assialang Marola, Assialana Memang dan Ripanddepe’ Mabelae. 



Pakaian adat Suku Bugis

1. Assialang Marola

Dalam bahasa Makassar, istilah ini disebut Passialeng baji’na. Bentuk perkawinan ini dikatakan sebagai bentuk ideal yang utama. Hal ini karena perkawinan oleh masyarakat Suku Bugis yang dilaksanakan antara saudara sepupu sederajat ke satu baik dari pihak ayah atau ibu.

2. Assialana Memang

Passialleana, begitulah masyarakat Suku Bugis menyebutnya. Seperti Assialang marola, Perkawinan ini juga melibatkan saudara sepupu namun pada sederajat kedua baik dari pihak ayah atau ibu.

3. Ripanddepe’ Mabelae

Perkawinan ideal yang satu ini biasanya antara saudara sepupu sederajat ketiga baik dari pihak ayah atau ibu. Oleh masyarakat Bugis, biasanya dinamakan nipakambani bellaya. Sebagai bentuk ideal yang terakhir, ternyata perkawinan ini memiliki makna untuk merekatkan kembali kekerabatan yang agak jauh.

Perlu diketahui meskipun masyarakat Suku Bugis sedemikian rupa menciptakan konsep perkawinan ideal, hal ini bukanlah suatu kewajiban untuk diikuti. Sehingga banyak pula yang melaksanakan perkawinan tanpa mengacu konsep di atas.

Pra Perkawinan Suku Bugis

Seperti kebanyakan masyarakat pada umumnya, masyarakat Suku Bugis juga memiliki kegiatan sebelum melangsungkan perkawinan. Di setiap kegiatannya tentu memiliki makna dan tujuan masing-masing.  Berikut kegiatan masyarakat suku ini sebelum perkawinan dilangsungkan:

Mappuce-puce (Peminangan)

Kegiatan ini biasanya dinamakan peminangan. Seperti kebiasaan pada umumnya, dimana keluarga dari pihak laki-laki mengadakan kunjungan ke rumah pihak perempuan. Hal ini untuk mengenal lebih jauh mempelai perempuan dan keluarganya.

Massuro (Penentuan Waktu dan Uang Panaik)

Massuro, kegiatan pihak laki-laki datang ke rumah pihak perempuan membicarakan lebih lanjut tentang waktu pernikahan kedua mempelai dan pemberian uang panaik.

Perempuan dengan pendidikan tinggi tentunya jumlah uang panaiknya akan berbeda dengan perempuan yang pendidikannya lebih rendah. Begitu juga dengan gelar bangsawan yang dimiliki si mempelai perempuan. Uang panaik ini berbeda dengan mahar.

Maduppa (Mengundang)

Maduppa disebut juga menyebar undangan pernikahan pada tamu yang akan diundang. Hal mana menunjukkan orang yang hadir dipernikahan mereka. Di sini kepala adat juga mendapat kedudukan yang istimewa sebagai tamu undangan.

Kesenian Suku Bugis

Kesenian yang dimiliki setiap daerah tentunya saling berbeda dengan yang lain. Begitu pun masyarakat Suku Bugis yang memiliki kesenian yang tidak kalah menarik dengan suku lainnya. Kesenian dari suku ini ada Seni Tari dan seni musik terlihat dari beberapa alat musik yang dimiliki. Ulasan lengkapnya bisa disimak dibawah ini:

Seni Tari Suku Bugis

Suku Bugis memiliki kesenian yang menarik berupa tari-tarian. Tarian yang dibawakan suku ini sangatlah indah dan mempesona serta memiliki beberapa nama. Nama tarian dari suku bugis, di antaranya:

a. Tari Paduppa Bosara

Tarian ini bermakna penyambutan tamu yang datang berkunjung. Hal ini sebagai bentuk penghargaan dan rasa terima kasih kepada para tamu atas kedatangannya.

b. Tari Pakarena

Pakarena dalam bahasa setempat diartikan sebagai main. Awalnya hanya digunakan untuk pertunjukan di istana kerajaan. Dalam perkembangannya tarian ini semakin dikenal. Tarian ini mencerminkan sifat lemah lembut dan sopan santun seorang wanita.

c. Tari Ma’badong

Oleh masyarakat Suku Bugis digunakan pada saat upacara kematian. Para penari memakai pakaian serba hitam atau terkadang bebas. Para penari saling mengaitkan jari kelingking dengan membentuk lingkaran. Tarian ma’badong dilakukan dengan gerakan langkah silih berganti yang diiringi lagu yang menggambarkan kehidupan manusia dari lahir hingga mati.

d. Tarian Pa’gellu

Tarian ini digunakan untuk menyambut seseorang yang pulang dari berperang. Dibalik tarian heroik yang satu ini, tersimpan peribahasa “jangan sampai kacang lupa kulitnya”. Intinya, sudah seharusnya selalu mengingat jasa-jasa pahlawan kita.

e. Tarian Mabissu

Tarian ini mempertontonkan kesaktian para bissu di Sigeri Sulawesi Selatan. Jenis tarian ini menunjukkan bagaimana kebalnya mereka terhadap senjata debusnya. Sehingga tarian ini terkesan mistis namun estetis.

f. Tari Kipas

Sesuai namanya, para penari menari dengan menggunakan kipas dan diiringi lagu. Keunikannya, meskipun gerakannya lemah lembut tapi dibalik itu irama yang dimainkan bertempo cepat. sehingga para penari dibalik itu dengan iramanya yang cepat harus tetap mempertahankan gerakannya lemah lembut.

Alat Musik Suku Bugis

Tak lengkap jika suatu masyarakat memiliki tarian tanpa alat musik. Begitu pun dengan masyarakat Suku Bugis yang memiliki alat musik yang membantu melengkapi indahnya tarian mereka. Adapun alat musik Suku Bugis, di antaranya:

- Gandrang Bulo. Alat musik yang diambil dari nama gandrang dan bulo yang disatukan artinya menjadi gendang dari bambu.
- Kecapi. Alat musik yang satu ini dimainkan dengan cara dipetik yang digunakan pada saat acara hajatan, perkawinan, dll. Fungsinya untuk memperkaya gabungan suara alat musik lain.
- Gendang. Alat musik ini mirip rebana yang bentuknya bulat panjang dan bundar. Seperti gendang lainnya, gendang milik masyarakat Suku Bugis ini juga menghasilkan suara yang khas dan memberikan irama yang bagus.
- Suling. Suling terdiri atas 3 jenis, yaitu suling panjang (suling lampe), suling calabai (suling ponco), dan suling dupa samping. Biasanya alat musik ini digunakan untuk menyambut kedatangan para tamu.

Rumah Adat Suku Bugis

Rumah Adat Suku Bugis dibangun tanpa menggunakan satupun paku dan digantikan dengan kayu atau besi. Jenis dari rumah ini memiliki 2 jenis untuk status sosial yang berbeda. Rumah saoraja digunakan untuk kaum bangsawan, sedangkan bola digunakan untuk rakyat biasa. Perbedaannya hanya pada luas kedua rumah dan besaran tiang penyangganya.

Rumah ini juga terdiri atas 3 bagian. Awa bola adalah kolong (bagian bawah) untuk menyimpan alat pertanian, alat berburu, dll. Badan rumah terdiri ruang tamu, ruang tidur, tempat menyimpan benih, dll. Untuk bagian belakang difungsikan sebagai dapur atau tempat tidur lansia dan anak gadis.

Arsitektur rumah ini mendapat pengaruh dari Islam karena rumah disana berorientasi menghadap kiblat dan banyak lukisan-lukisan bernuansa Islami.

Pakaian Adat Suku Bugis

Masyarakat Suku Bugis memiliki baju adat yang dinamakan baju bodo (pendek). Awalnya baju ini dibuat dengan lengan pendek tanpa memakai dalaman. Seiring perkembangan jaman baju ini dibuat menutupi aurat karena pengaruh Islam.

Baju bodo ini dipadukan dengan dalaman yang warnanya sama namun lebih terang. Selain itu, untuk bawahan berupa sarung sutera berwarna senada.

Adat Istiadat Suku Bugis

Adat istiadat yang sering dilakukan adalah menggelar upacara adat mappadendang (pesta panen bagi adat Suku Bugis). Upacara ini selain sebagai bentuk syukur atas keberhasilan dalam menanam padi juga memiliki nila magis.

Upacara ini juga disebut pensucian gabah. Maksudnya membersihkan dan mensucikan dari batang dan daunnya yang kemudian langsung dijemur dibawah matahari. Upacara dilakukan dengan menumbukkan alu ke lesung silih berganti yang dilakukan 6 perempuan dan 3 laki-laki dengan memakai baju bodo.

Para perempuan yang beraksi dalam bilik baruga dinamakan Pakkindona, sedangkan para pria dinamakan Pakkambona. Para pria menari dan menabur bagian ujung lesung. Bilik baruga yang digunakan berasal dari bambu, sedangkan pagar dibuat dari anyaman bambu disebut walasoji.

Demikian Sejarah dan Kebudayaan Suku Bugis serta Hubungannya dengan Lampung. Semoga tulisan saya ini bermanfaat untuk memperkaya khasanah budaya dengan nilai-nilai di dalamnya agar tetap menjaga kesatuan dan persatuan bangsa. (BD.IN/FRN)


No comments

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).