Sejarah dan Budaya Suku Jawa - inphedia.id

Header Ads

TOPIK

Sejarah dan Budaya Suku Jawa


Menurut ahli arkeologi, asal-usul penduduk Jawa tak terlepas dari asal-usul orang Indonesia itu sendiri.
 
INPHEDIA.ID - Banyak kerajaan-kerajaan besar berdiri di Pulau Jawa yang peninggalannya bisa dilihat sampai saat ini, seperti Kerajaan Majapahit, Singosari, Mataram, dan lain sebagainya. Kerajaan-kerajaan itu meninggalkan banyak bukti sejarah, baik berupa prasasti maupun candi dan lainnya.

Dari mana sebenarnya asal-usul Suku Jawa ini? Berikut sejumlah tulisan kuno hingga teori ilmuwan menyampaikan asal muasal keberadaan Suku Jawa di Indonesia.

1. Tulisan Kuno India

Tulisan kuno India menyebutkan, pada zaman dulu beberapa pulau di kepulauan Nusantara menyatu dengan daratan Asia dan Australia. Pada suatu waktu terjadilah musibah sehingga menyebabkan meningkatnya permukaan air laut. Beberapa daratan terendam air hingga akhirnya memisahkan pulau—pulau tersebut dari daratan utama.

Disebutkan dalam tulisan kuno itu seorang pengembara bernama Aji Saka mengembara ke beberapa penjuru dan akhirnya menemukan Pulau Jawa. Menurut tulisan kuno ini, Aji Saka orang pertama yang menginjakkan kaki di bumi Jawa. Ia dan pengikutnya dianggap sebagai nenek moyang Suku Jawa saat ini.

2. Babad Tanah Jawa

Dalam Babad Tanah Jawa dikatakan, masyarakat Jawa berasal dari Kerajaan Kling. Semasa itu, Kerajaan Kling sedang berada dalam situasi yang kacau akibat dari perebutan kekuasaan. Salah satu pangeran Kling yang tersisih pergi meninggalkan kerajaan tersebut bersama dengan para pengikutnya yang setia.

Diceritakan, Pangeran Kling mengembara hingga ia menemukan sebuah pulau terpencil yang belum berpenghuni. Mereka bahu-membahu membangun pemukiman, dan akhirnya mereka juga mendirikan sebuah kerajaan yang diberi nama Javacekwara. Keturunan pangeran inilah yang dianggap sebagai  nenek moyang Suku Jawa menurut Babad Tanah Jawa.

3. Surat Kuno Keraton Malang

Menurut surat kuno ini menyebutkan bahwa asal-usul penduduk Jawa berasal dari kerajaan Turki pada tahun 450 SM. Sang Raja mengirim rakyatnya untuk mengembara dan membangun daerah kekuasaan mereka yang belum dihuni. Migrasi ini dilakukan secara bergelombang selama beberapa waktu.

Akhirnya, utusan raja tersebut sampai di sebuah tanah yang subur, banyak ditemukan aneka bahan pangan. Tidak sulit untuk beradaptasi dan membangun pemukiman di sana. Semakin lama semakin banyak gelombang migrasi yang datang. Pulau asing tersebut akhirnya diberi nama Tanah Jawi oleh orang-orang yang datang, karena di sana banyak ditemukan tanaman jawi.

4. Pendapat Arkeolog

Menurut ahli arkeologi asal-usul penduduk Jawa tak terlepas dari asal-usul orang Indonesia itu sendiri. Para arkeolog yakin bahwa nenek moyang Suku Jawa berasal dari penduduk pribumi. Hal ini diperkuat dengan ditemukannya fosil manusia purba Pithecanthropus Erectus dan juga Homo Erectus.

Eugene Dubois yang merupakan seorang ahli anatomi yang berasal dari Belanda menemukan sebuah fosil Homo erectus. Penemuan tersebut bertempat di Trinil pada tahun 1891. Fosil Homo erectus tersebut lebih dikenal dengan sebutan manusia Jawa.

Dari perbandingan antara DNA pada fosil manusia kuno dengan Suku Jawa pada masa kini, hasil yang didapat cukup menarik, bahwa DNA tersebut tidak memiliki perbedaan yang jauh satu sama lain. Hal tersebut akhirnya dipercayai oleh beberapa ahli arkeologi sebagai teori asal-usul keberadaan suku jawa.

5. Pendapat Sejarawan

Beberapa sejarawan memiliki pendapat berbeda mengenai asal-usul suku Jawa. Von Hein Geldern menyebutkan bahwa telah terjadi migrasi penduduk dari daerah Tiongkok bagian selatan atau yang biasa disebut Yunan di kepulauan Nusantara. Migrasi ini terjadi dimulai dari zaman neolitikum 2000 SM sampai jaman perunggu 500 SM secara besar-besaran dan bertahap menggunakan perahu cadik.

Menurut Dr. H. Kern yang mengungkapkan penelitiannya tahun 1899 menyebutkan, bahasa daerah di Indonesia mirip satu sama lain. Kemudian ia menarik kesimpulan jika bahasa tersebut berasal dari akar rumpun yang sama yaitu rumpun Austronesia. Hal inilah yang menguatkan Geldern tentang teorinya mengenai asal-usul suku jawa dan bangsa Indonesia.

Kebudayaan Suku Jawa

Kebudayaan Suku Jawa memiliki keberagaman. Dari kebudayaan yang ada, semua mungkin sudah banyak orang yang mengetahuinya. Mengingat, Suku Jawa merupakan salah satu suku terbesar di Indonesia. Orang-orang Jawa tersebar di sejumlah daerah di Tanah Air, baik melalui program kolonisasi, transmigrasi maupun pindah sendiri hingga akhirnya tersebar ke hampir seluruh pelosok negeri ini.

Suku Jawa mempunyai rumah adat, budaya Kejawen, kesenian wayang kulit, senjata tradisional, seni musik, seni tari, bahasa dan aksara serta lain sebagainya.

1. Wayang Kulit

Kesenian Wayang Kulit salah satu seni khas Jawa. Wayang Kulit merupakan salah satu kebudayaan Suku Jawa yang dipercaya telah dikembangkan oleh Wali Songo. Wali Songo merupakan tokoh-tokoh yang menyebarkan agama islam di Pulau Jawa. Wayang kulit dimainkan oleh seorang dalang menggunakan beberapa alat, seperti wayang, batang pisang untuk menancapkan, kain putih dan lampu sorot.

Permainan wayang dilakukan selama semalam suntuk. Pertunjukan ini disertai dengan musik gamelan khas jawa dan juga penyanyi sinden. Cerita wayang itu sendiri berkisah mengenai pelajaran dalam kehidupan, misalnya Mahabrata dan Ramayana yang telah dimodifikasi sesuai dengan kultur Jawa.

2. Senjata Tradisional

Senjata khas yang digunakan orang Jawa berupa keris. Keris merupakan pusaka yang sangat penting yang juga dipercaya memiliki kesaktian. Keris dibuat para Mpu yang ditempa serta diberi mantra-mantra. Salah satu keris yang melegenda ialah keris Mpu Gandring dalam cerita Ken Arok.

3. Seni Musik

Suku Jawa memiliki musik tradisional yang dihasilkan oleh gamelan. Gamelan digunakan oleh wali songo pada zaman dahulu untuk menyebarkan agama islam. Gamelan merupakan gabungan dari beberapa alat musik seperti kendang, gong, kenong, bonang, kempul, gambang, slenthem dan lain-lain.

4. Seni Tari

Tari tradisional Jawa amat beragam. Tari-tarian ini ada yang berupa gerakan lemah gemulai, dan ada juga yang memiliki gerakan yang tangkas. Biasanya tari-tarian Jawa tak terlepas dari unsur magis. Beberapa tarian Jawa itu seperti sintren, bedhaya, kuda lumping, reog dan lainnya. Tari-tarian ini biasa diiringi musik gamelan dan seruling.

5. Bahasa dan Aksara

Masyarakat Jawa biasa menggunakan bahasa jawa dalam percakapan sehari-hari. Bahasa jawa sendiri mempunyai beberapa tingkatan tergantung dari dengan siapa percakapan itu berlangsung.

Tingkatan tersebut yaitu “ ngoko” yang merupakan bahasa sedikit kasar yang digunakan kepada seseorang yang tingkatannya berada dibawah, kemudian “krama madya” yaitu bahasa jawa yang digunakan kepada orang yang sederajat, dan “krama inggil” yaitu bahasa yang digunakan kepada orang yang lebih tua atau dihormati.

Aksara Jawa memiliki 20 buah huruf yaitu ha, na, ca, ra, ka, da, ta, sa, wa, la, pa, dha, ja,ya, nya, ma, ga, ba, tha, nga. Artinya adalah ada dua utusan yang setia saling bertarung sama-sama saktinya dan sama-sama matinya.

6. Falsafah Hidup

Falsafah yang dianut orang Jawa merupakan pedoman hidup bagi masyarakat. Beberapa di antaranya yaitu “urip iku urup” hidup itu harus bermanfaat, “mangan ora mangan sing penting kumpul” kebersamaan merupakan hal penting dan lain-lain.

7. Budaya Kejawen

Merupakan suatu budaya yang sangat melekat dalam masyarakat jawa. Ajaran ini merupakan gabungan dari adat istiadat, budaya, pandangan sosial dan filosofis orang Jawa. Ajaran kejawen hampir mirip seperti agama yang mengajarkan spiritualitas masyarakat Jawa kepada Penciptanya.

Demikian Sejarah dan Budaya Suku Jawa di Indonesia, mulai dari asal-usul, seni budaya hingga falsafah hidup Suku Jawa. Walaupun tidak secara mendetil, akan tetapi tulisan ini sedikit banyaknya dapat menggambarkan bagaimana asal muasal dan kebudayaan Suku Jawa yang saat ini menjadi penduduk terbesar di Tanah Air. (BD.IN/RSD)

No comments

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).