Sejarah dan Budaya Suku Sunda - inphedia.id

Header Ads

TOPIK

Sejarah dan Budaya Suku Sunda

Tari Jaipong atau Jaipongan
Saat ini selain Suku Jawa, tak begitu heran jika orang-orang Sunda juga banyak dijumpai, sekalipun di perantauan.

INPHEDIA.ID - Suku Sunda, kelompok etnis yang berasal dari bagian barat Pulau Jawa ini merupakan suku kedua terbesar di Indonesia yang mencakup wilayah Provinsi Jawa Barat, Jakarta, Banten hingga Lampung sekarang.

Saat ini selain Suku Jawa, tak begitu heran jika orang-orang Sunda juga banyak dijumpai, sekalipun di perantauan. Suku Sunda memiliki ragam budaya yang menjadi identitas mereka. Mayoritas suku ini beragama Islam namun ada juga sebagian kecil yang beragama Kristen, Hindu bahkan Sunda Wiwitan.

Asal-Usul Suku Sunda

Kata Sunda berasal dari akar kata sund atau suddha dalam bahasa Sanskerta yang berarti bersinar, terang dan putih (Williams, 1872:1128, Eringa, 1949:289).

Jauh sebelum bangsa Indonesia merdeka semasa zaman kerajaan, Suku Sunda sudah dikenal dengan Tatar Pasundan. Wilayah penyebaran Suku Sunda meliputi bagian barat Pulau Jawa dimana sebagian besar wilayahnya masuk Provinsi Jawa Barat dan Banten sekarang.

Karakter masyarakat Sunda sudah dijalankan sejak zaman kerajaan. Berupa cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (mawas diri), dan pinter (cerdas) menjadi jalan menuju keutamaan hidup.

Ciri utama dari daratan Sunda berupa busur kepulauan gunung api bagaikan background. Lereng bukit hingga aliran sungai sangat indah dipandang. Hal ini membuat tanah Sunda lebih subur dan baik untuk bercocok tanam. Mata pencaharian cukup beragam dari sektor perkebunan, perdagangan dan pertanian.

Fakta-fakta Menarik Suku Sunda

Suku Sunda lumayan terkenal dan banyak ciri khas yang dimilikinya. Jika orang mendengar istilah-istilah yang akan dijelaskan di bawah ini mereka pasti langsung bisa menebak bahwa itu dimiliki oleh Suku Sunda. Nah, dari pada masih meraba-raba dan penasaran, apa saja ciri khas Suku Sunda itu?

1. Tari Jaipong

Ketika masyarakat perkotaan lebih menikmati tari modern seperti boyband dan girlband masyarakat Suku Sunda sangat memegang erat budaya yang sudah turun temurun dari nenek moyang. Salah satunya tari Jaipong yang sangat terkenal di penjuru nusantara. Tari Jaipong ini lebih sering dijumpai saat acara besar.

Tari Jaipong pun turut dipertontonkan di mancanegara. Ciri gerakan yang lincah dan bunyi khas gendangnya membuat tari ini disukai banyak orang. Tarian ini pernah dibawakan di Irak untuk tampil dalam Festival Internasional Babylon.

2. Istilah Pamali atau Larangan

Kata Pamali bisa diartikan sebagai pantangan dari hal-hal yang menurut tradisi tak boleh dilakukan dengan cara sengaja. Jika hal tersebut dilakukan akan menyebabkan datangnya malapetaka atau kejadian tidak baik bagi yang melanggar. Di Sunda dikenal pula kalimat ceuk kolot baheula mah (kata orang dahulu mah) yang biasa mendahului kalimat larangan.

Di sisi lain, sebagian masyarakat menggunakan kata pamali sebagai cara menakut-nakuti anak kecil. Pada zaman dahulu hal ini dilakukan supaya mereka tidak berani menentang perintah orang tua. Sebagai contoh: Ulah kaluar imah sareupna yang bermakna jangan keluar rumah saat menjelang malam atau magrib. Mitosnya berupa bisa diculik setan.

Pandangan tersebut sebenarnya juga diajarkan dalam agama Islam untuk menahan anak-anak di waktu magrib karena saat itu setan-setan berkeliaran dan anak-anak dianggap mudah untuk dirasuki. Jika sesaat malam sudah berlalu maka anak-anak baru boleh dilepas.

Masyarakat Sunda dahulu pun dikenal erat memegang kewajiban dalam agama Islam khususnya. Bahwa saat magrib, anak-anak lebih baik melakukan aktivitas ibadah seperti salat magrib berjama’ah maupun baca tulis Al-Qur’an di musala.

3. Aksara Sunda

Masyarakat Suku Sunda sudah mengenal aksara ini sejak abad ke-14 untuk menuliskan bahasa yang digunakan. Disebut juga aksara Ngalagena dan menjadi salah satu peninggalan budaya yang sangat berharga.

Bukti peninggalan sejarah aksara Sunda ini ditemukan pada Prasasti Kawali (Prasasti Astana Gede) yang dibuat untuk mengenang Prabu Niskala Wastukencana yang memerintah di Kawali, Ciamis pada 1371-1475.

Seiring berkembangnya waktu, aksara Sunda mulai sedikit di ketahui anak zaman modern. Kabar baiknya, masih ada masyarakat yang bersedia menjaga ciri khas Suku Sunda dengan memperkenalkan aksara tersebut lewat internet maupun mengajar secara langsung. Hal itu tentu saja menjadi sesuatu yang berarti guna melestarikan aksara sunda di masa sekarang dan akan datang. (SJ.IN/RSD)

No comments

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).