Thay Hin Bio, Vihara Tertua di Lampung Bernuansa Budaya Tiongkok Klasik - inphedia.id

Header Ads

TOPIK

Thay Hin Bio, Vihara Tertua di Lampung Bernuansa Budaya Tiongkok Klasik

Dua lampion besar yang tergantung di pintu masuk dan lukisan khas Tiongkok di sekitarnya, juga semakin mempertegas betapa kental budaya Tiongkok di vihara ini.

INPHEDIA.ID - Vihara Thay Hin Bio terletak di Jalan Ikan Kakap Nomor 35, Telukbetung Selatan, Kota Bandarlampung, terlihat sangat kental dengan nuansa kebudayaan Tiongkok klasik. Pada tahun 2019 ini, Thay Hin Bio telah berusia sekitar 123 tahun dan salah satu vihara tertua di Provinsi Lampung.

Bagian depan vihara berdiri gerbang berwarna merah dan kuning yang dihiasi ornamen naga dan lukisan-lukisan klasik Tiongkok. Saat memasuki gerbang, terlihat pula dua pagoda di sisi kanan dan kiri halamannya. Pada pintu masuk vihara, terlihat dua pilar besar dengan ukiran berbentuk naga.

Dua lampion besar yang tergantung di pintu masuk dan lukisan khas Tiongkok di sekitarnya, juga semakin mempertegas betapa kental budaya Tiongkok di vihara ini, sehingga membuat siapa pun yang belum memasukinya dapat merasakannya.

Memasuki bangunan utama vihara, terlihat lilin-lilin besar secara mencolok yang belum dinyalakan, lampion-lampion yang bergelantungan, pilar-pilar yang bertuliskan aksara mandarin, dan ornamen khas Tiongkok lainnya. Sebagian besar benda di dalam vihara ini merupakan perlengkapan sembahyang para umat yang datang untuk beribadah di vihara ini.
 

Arti nama vihara tersebut, yaitu Thay Hin Bio adalah tempat berkumpul orang-orang yang bahagia. Demikian pula dengan warna merah dan kuning yang mendominasi bangunan vihara. Warna merah berarti keberuntungan dan kebahagiaan.

Nama Thay Hin Bio jika dijabarkan, yakni Thay berarti besar, Hin berarti kebahagiaan, dan Bio berarti kelenteng atau tempat ibadah. Jadi, kalau  disatukan artinya berarti tempat berkumpul orang-orang bahagia. Warna merah juga berarti keberuntungan dan kebahagiaan.

Vihara Thay Hin Bio merupakan salah satu vihara tertua di Lampung yang telah berdiri sejak 1896. Vihara ini sempat direnovasi pada tahun 1963, dan masih berdiri kokoh hingga saat ini meskipun usianya sudah mencapai 123 tahun.

Tahun 1896 masyarakat di Kampung China, Lampung, mengusulkan agar dibangun wihara. Saat itu namanya Vihara Kwan Im Tong. Baru mendapat izin tanggal 1 Oktober 1898. Karena umat semakin banyak, dilakukan renovasi tahun 1963 dan selesai tahun 1967.

Sejarah berdiri vihara ini bermula sekitar tahun 1850, seseorang yang berasal dari Tiongkok bernama Po Heng datang ke Lampung membawa rupang (patung) Kwan Im Phu Sha.

Sebelumnya, sudah banyak penduduk Lampung yang memuja Kwan Im Phu Sha, sehingga kedatangan Po Heng saat itu disambut dengan baik. Banyak simpatisan yang datang untuk melihat rupang dan mengusulkan agar dibangun cetya sebagai tempat sembahyang bersama.

Tempat sembahyang itu akhirnya dibangun di daerah Gudang Agen, Telukbetung Selatan (berjarak sekitar 700 meter dari bangunan vihara saat ini) dan dinamakan Cetya Avalokitesvara atau Cetya Kwan Im Thong. (*)

Terdampak Letusan Gunung Krakatau

Pada bulan Agustus 1883, Cetya Avalokitesvara hancur akibat letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda. Letusan gunung api di dalam laut yang sangat dahsyat berdampak bagi dunia, dan terus tercatat dalam sejarah hingga sekarang dan nanti.

Po Heng pada saat itu sempat menyelamatkan Rupang Kwan Im Phu Sha dan Siancai Liong Li dan membawanya ke daerah yang lebih tinggi. Po Heng diduga membangun sebuah cetya di daerah itu, namun hingga saat ini alamatnya tidak diketahui. Akhirnya, dibangunlah Wihara Thay Hin Bio di Jalan Ikan Kakap (dulu bernama Jalan Kelenteng) untuk menggantikan cetya tersebut.

Vihara ini memiliki dua lantai. Lantai dasar dinamakan Ruang Bhaktisala dan lantai dua dinamakan Ruang Dharmasala. Rupang yang dipuja tidak hanya Kwan Im Phu Sha dan Siancai Liong Li, tetapi juga banyak rupang lainnya di lantai dasar maupun di lantai dua.

Karena arsitektur dan ornamen klasik Tiongkok melekat pada wihara ini, masyarakat non-Buddha seringkali datang mengunjungi wihara untuk sekadar melihat-lihat. Kebetulan di sekitar wihara ini juga ada tempat berjualan oleh-oleh khas Lampung, jadi biasanya wisatawan yang tertarik melihat bangunan wihara langsung mampir ke sini.

Dari keseluruhan ornamen khas Tiongkok yang terdapat di vihara ini, lilin besar dan pilar bertuliskan aksara mandarin satu contoh benda yang menarik perhatian para pengunjung. Selain itu, pilar-pilarnya juga cantik dan membuat penasaran.

Lilin-lilin besar yang terdapat di pintu masuk sumbangan dari masyarakat yang turut merayakan imlek di wihara itu. Makna dari lilin-lilin ini pengabdian tanpa mementingkan diri sendiri.

Ada pepatah Tionghoa bilang, sebuah lilin tidak akan padam sampai air matanya kering. Nah, itu maksudnya air yang menetes dari lilin saat dinyalakan. Lilin ini melambangkan pengabdian yang tidak mementingkan diri sendiri, karena terus menerangi hingga habis.

Pilar-pilar yang berisikan aksara mandarin juga memiliki makna, yakni sebagai nasihat agar siapa pun yang melihatnya dapat memperoleh pencerahan. Di pilar-pilar ini ada syair Buddha Dharma yang berisi nasihat agar orang sadar dan dapat pencerahan dari ajaran Sang Buddha.

Arsitektur dan ornamen yang terdapat di Wihara Thay Hin Bio itu terus dipertahankan sebagai bentuk pelestarian budaya karena sudah sejak awal dibawa oleh para penyebar agama Buddha dari Tiongkok. Selain tempat bersembahyang agama Buddha, wihara juga bentuk kultur atau budaya yang dibawa oleh para pendahulu atau leluhur yang datang ke Indonesia.

Kebudayaan Tiongkok klasik yang melekat di wihara ini menjadi alasan tetap bertahan wihara ini dari waktu ke waktu. Saat ini, teknologi semakin berkembang dan masyarakat Lampung semakin bertambah. Para romo, umat Buddha, dan pengunjung wihara tidak melihat perkembangan zaman sebagai tantangan, melainkan sebagai peluang semakin dikenal vihara ini oleh masyarakat.

Keberadaan dan eksistensi Wihara Thay Hin Bio ini akan sangat terasa setiap kali perayaan Imlek, karena menjadi pusat aktivitas ibdah persembahyangan umat Buddha maupun kemeriahan atraksi barongsai dan tradisi lain yang masih terus dipertahankan sampai sekarang.

Lokasi salah satu wihara tertua di Lampung ini yang cukup strategis berada di pinggir jalan utama pusat perdagangan dan bisnis di kawasan Telukbetung dan sekitar Kompleks Pecinan di daerah ini, serta dikelilingi kawasan perdagangan kuliner oleh-oleh khas Lampung, seperti keripik pisang dan kemplang, membuatnya menjadi daya tarik bagi siapa pun yang berkunjung ke daerah ini, selain bagi masyarakat Lampung. (WS.IN/*)

No comments

Siapapun boleh berkomentar, tetapi secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab individu komentator seperti yang diatur dalam UU ITE (Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik).